Sains

Jakarta–London 45 Menit: Perjalanan Roket

Disusun dan diverifikasi dari sumber yang dikutip, ditinjau oleh tim editorial kami.

Jakarta ke London dalam 45 Menit: Ketika Roket Menggantikan Pesawat

Bayangkan Anda sarapan nasi uduk di Jakarta pagi ini, lalu tiba di London tepat waktu untuk makan siang di sebuah kafe di tepi Sungai Thames — bukan besok, bukan setelah transit melelahkan di Doha atau Dubai, tetapi hanya sekitar 45 menit setelah lepas landas.

Hari ini, penerbangan komersial Jakarta–London memakan waktu sekitar 16 jam (belum termasuk transit). Namun sebuah konsep radikal yang digagas SpaceX menjanjikan sesuatu yang terdengar seperti fiksi ilmiah: menempuh jarak yang sama dalam waktu yang lebih singkat daripada perjalanan komuter Anda dari rumah ke kantor di ibu kota.[1]

Ide ini bukan sekadar khayalan. Ia memiliki nama, kendaraan, dan angka-angka konkret. Namanya Earth-to-Earth — perjalanan dari titik ke titik di permukaan Bumi menggunakan roket. Mari kita bedah bagaimana hal yang mustahil ini bisa menjadi mungkin.


Bagaimana Ini Mungkin? Roket yang “Melompati” Atmosfer

Kunci dari semua ini adalah kendaraan raksasa buatan SpaceX bernama Starship, dipadukan dengan roket pendorong Super Heavy — sistem roket paling kuat yang pernah dibangun manusia.[2]

Konsepnya disebut Earth-to-Earth (Bumi-ke-Bumi), dan cara kerjanya sangat berbeda dari pesawat jet biasa yang terbang di dalam atmosfer. Berikut tahapannya:

  1. Peluncuran dari platform lepas pantai. Alih-alih dari bandara di tengah kota, roket lepas landas dari platform terapung di atas laut, tidak jauh dari kota. Ini penting karena roket sangat bising dan getarannya besar — lebih aman menjauhkannya dari permukiman padat.

  2. Naik ke tepi luar angkasa. Booster Super Heavy melontarkan Starship ke lintasan suborbital. Artinya, roket ini tidak benar-benar mengorbit Bumi seperti satelit, tetapi melesat naik hingga ke tepi luar angkasa, jauh di atas lapisan atmosfer tempat pesawat biasa terbang.

  3. Meluncur dengan kecepatan hipersonik. Di ketinggian ekstrem itu, hampir tidak ada hambatan udara. Starship melaju dengan kecepatan hipersonik — berkali-kali lipat kecepatan suara — meluncur seperti bola meriam raksasa mengikuti lengkung Bumi.

  4. Sensasi mikrogravitasi. Selama fase meluncur ini, para penumpang akan mengalami sesaat kondisi mikrogravitasi (microgravity) — sensasi melayang tanpa bobot, persis seperti yang dirasakan para astronaut, meski hanya beberapa menit.

  5. Mendarat vertikal di tujuan. Starship kemudian menukik turun dan mendarat secara terkontrol di platform laut dekat kota tujuan — misalnya, di lepas pantai dekat London.

Seluruh perjalanan lintas benua ini — yang biasanya menyita hampir satu hari penuh hidup Anda — dipadatkan menjadi hitungan menit.[4]


Tabel Waktu Tempuh: Angka-Angka yang Diungkap SpaceX

SpaceX telah mempublikasikan estimasi waktu tempuh untuk sejumlah rute utama dunia. Inilah yang membuat konsep ini terasa begitu nyata. Kami menempatkan rute favorit pembaca Indonesia — Jakarta ke London — di puncak tabel:

RuteWaktu Tempuh dengan Roket
Jakarta – London~45 menit
New York – Shanghai39 menit
London – New York29 menit
Los Angeles – Tokyo37 menit
Sydney – London51 menit
New York – Paris30 menit

Menurut SpaceX, sebagian besar perjalanan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit, dan hampir setiap tujuan di dunia dapat dicapai dalam waktu kurang dari 1 jam.[2]

Renungkan angka itu sejenak. New York ke Shanghai hanya 39 menit. Ini adalah rute yang saat ini memakan waktu 15 hingga 20 jam jika ditempuh dengan pesawat.[1]


Perbandingan: 16 Jam vs 45 Menit

Untuk pembaca di Indonesia, mari kita buat kontrasnya benar-benar terasa dengan rute Jakarta–London:

  • Dengan pesawat hari ini: sekitar 16 jam terbang langsung (dan pada praktiknya bisa 18–20 jam dengan transit). Anda menghabiskan hampir seluruh hari duduk di kabin, melintasi belasan zona waktu, tiba dalam kondisi jet lag berat.

  • Dengan roket Starship: sekitar 45 menit. Waktu yang bahkan lebih singkat daripada durasi rata-rata terjebak macet di jalan tol dalam kota Jakarta pada jam sibuk.

Perbandingan ini bukan sekadar soal kecepatan — ia mengubah makna jarak itu sendiri. Perjalanan bisnis yang biasanya menuntut menginap semalam, kelelahan, dan berhari-hari terbuang, secara teoretis bisa berubah menjadi perjalanan pulang-pergi dalam satu hari. Inilah alasan mengapa banyak analis melihat potensi teknologi ini untuk mengakhiri era penerbangan bisnis semalaman.[3]


Sepupu yang Lebih Dekat: Pesawat Hipersonik

Sambil menunggu roket penumpang menjadi kenyataan, ada teknologi lain yang bergerak lebih dulu dan mungkin tiba lebih cepat: pesawat hipersonik.

Berbeda dari Starship yang melompat ke tepi luar angkasa, pesawat hipersonik tetap terbang di dalam atmosfer, tetapi dengan kecepatan berkali-kali lipat kecepatan suara. Beberapa perusahaan sedang berlomba mewujudkannya:

  • Venus Aerospace — mengembangkan mesin roket dan pesawat yang menargetkan kecepatan hipersonik untuk penerbangan penumpang di masa depan.
  • Hermeus — merancang pesawat yang bertujuan terbang jauh lebih cepat daripada jet komersial saat ini.

Pesawat-pesawat ini tidak akan secepat roket seperti Starship, tetapi mereka merupakan langkah antara yang lebih realistis dan lebih dekat untuk terwujud. Anggaplah mereka sebagai jembatan menuju era perjalanan super cepat — tidak seekstrem roket, tetapi jauh lebih cepat dari apa pun yang kita miliki hari ini.


Tantangan dan Realisme: Kapan Ini Benar-Benar Terjadi?

Sebelum Anda memesan tiket Jakarta–London 45 menit, penting untuk berpijak kembali ke Bumi. Konsep Earth-to-Earth saat ini masih berstatus konsep/tahap masa depan — belum komersial. Ada sejumlah rintangan besar yang harus diatasi:

  • Biaya. Peluncuran roket sangat mahal. Agar kompetitif dengan tiket pesawat, biaya per penumpang harus turun drastis — sebuah tantangan ekonomi yang belum terpecahkan.

  • Gaya-G dan kenyamanan. Peluncuran dan pendaratan roket menghasilkan gaya gravitasi (G-force) yang tinggi. Astronaut terlatih menghadapinya dengan persiapan; penumpang biasa — termasuk lansia atau mereka dengan kondisi jantung — belum tentu sanggup. Fase mikrogravitasi juga bisa memicu rasa mual bagi sebagian orang.

  • Kebisingan. Roket luar biasa bising. Inilah salah satu alasan peluncuran harus dilakukan dari platform lepas pantai, jauh dari kota — yang berarti penumpang perlu waktu tambahan untuk mencapai lokasi peluncuran.

  • Keselamatan. Standar keselamatan penerbangan komersial sangat ketat. Roket harus membuktikan tingkat keandalan yang setara sebelum boleh mengangkut penumpang secara rutin.

  • Regulasi. Belum ada kerangka hukum internasional yang mengatur perjalanan penumpang lintas benua dengan roket suborbital. Siapa yang mengawasi? Bagaimana izin lintas wilayah udara/antariksa antarnegara? Semua ini masih menjadi ruang kosong.

  • Infrastruktur platform laut. Membangun jaringan platform peluncuran dan pendaratan terapung di dekat kota-kota besar dunia adalah proyek raksasa tersendiri.

Kesimpulannya: teknologinya secara fisika masuk akal, tetapi mengubahnya menjadi layanan komersial yang aman, terjangkau, dan nyaman masih memerlukan bertahun-tahun — bahkan mungkin puluhan tahun — pengembangan.


Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah benar Jakarta ke London bisa ditempuh dalam 45 menit dengan roket? Secara teoretis, ya. Berdasarkan estimasi waktu tempuh yang dipublikasikan SpaceX untuk konsep Earth-to-Earth, rute sejauh Jakarta–London berada di kisaran 45 menit. Namun, ini masih berupa konsep dan belum tersedia sebagai layanan komersial.

2. Apakah penumpang akan merasakan melayang tanpa bobot? Ya. Selama fase meluncur di lintasan suborbital, penumpang akan mengalami sesaat mikrogravitasi — sensasi melayang tanpa bobot seperti astronaut — meski hanya berlangsung beberapa menit.

3. Apakah ini aman untuk penumpang biasa? Inilah salah satu tantangan terbesar. Peluncuran dan pendaratan roket menimbulkan gaya-G tinggi yang mungkin tidak nyaman atau tidak cocok bagi semua orang. Standar keselamatan dan kenyamanan untuk penumpang umum masih harus dikembangkan dan dibuktikan.

4. Kapan kita benar-benar bisa terbang dengan roket seperti ini? Belum ada tanggal pasti. Saat ini teknologi Earth-to-Earth masih berupa konsep masa depan, bukan produk komersial. Sebagai langkah antara yang lebih dekat, pesawat hipersonik dari perusahaan seperti Venus Aerospace dan Hermeus kemungkinan akan hadir lebih dulu — lebih lambat dari roket, tetapi jauh lebih cepat dari pesawat saat ini.


Sumber

  1. HowStuffWorks — New York to Los Angeles in 12 Minutes
  2. SpaceX — Starship (Earth-to-Earth)
  3. Forbes — SpaceX Starship business travel (2026)
  4. NASASpaceflight — Starship point-to-point (2025)
Kategori:Sains

← Kembali ke Sains